Post Terbaru

Pemerintah Malaysia tengah mendukung kampanye mempopulerkan sebuah sup, yang diklaim sebagai salah satu ciri khas Negeri Jiran itu. Namun, kalangan ulama Islam menuntut pemerintah agar sup itu tidak memakai nama "Bak Kut Teh," karena berkonotasi mengandung daging babi.
Dalam suatu pameran kuliner yang mempromosikan makanan tradisional akhir pekan lalu, Kementrian Pariwisata Malaysia memperkenalkan hidangan baru: Bak Kut Teh versi halal. Maksudnya, tulang dan daging yang menjadi bahan utama sup itu bukan berasal dari babi, melainkan ayam, ikan, dan sayur.
Namun, maksud baik pemerintah itu mendapat kritik dari kalangan ulama Malaysia. Mereka keberatan bila hidangan itu tetap dinamai "Bak Kut Teh" walaupun memakai tambahan kata "halal."
Pasalnya, di kalangan masyarakat etnis China, Bak Kut Teh identik dengan sup daging dan tulang iga babi. Jadi, walaupun daging babi diganti dengan daging ayam atau ikan, hidangan halal itu bisa menimbulkan keraguan bagi umat Muslim.
"Ini akan menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat," kata Ma'mor Osman, sekretaris jenderal Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia. "Bahkan [hidangan baru] itu bisa mengakibatkan umat Muslim merasa tidak apa-apa makan daging babi," lanjut Osman kepada kantor berita Associated Press.
Itulah sebabnya, Asosasi berencana mengajukan protes kepada Kementrian Pariwisata agar sup halal dicarikan nama lain. Bahkan, Departemen Pembangunan Islam - lembaga pemerintah yang mengurusi kebijakan-kebijakan Islam di Malaysia - tidak akan menerbitkan sertifikat halal bila Kementrian tetap menamakan sup itu "Bak Kut Teh."
Menurut deputi direktur Departemen Pembangunan Islam, Lokman Abdul Rahman, pihaknya khawatir bahwa umat Muslim akan mengambil pandangan yang salah sup itu tetap dinamai demikian.
Sebenarnya, makanan itu tidak saja populer di Malaysia, namun juga di China, Taiwan, Singapura dan Indonesia. Hidangan yang cocok menjadi lauk untuk nasi dan mi itu konon diperkenalkan di Malaysia (Malaya) pada abad ke-19 oleh para pekerja asal China, baik dari Canton (Hong Kong), Chaoshan, dan Fujian.
Jakarta - Rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, belum ramah terhadap warga dan pasien miskin.
Hal ini terbukti dengan banyaknya keluhan pasien miskin, terutama dari kelompok perempuan, terhadap pelayanan rumah sakit.
Demikian kesimpulan yang diperoleh melalui survei Citizen Report Card (CRC) Indonesia Corruption Watch (ICW) pada bulan November 2009, yang disampaikan Ade Irawan, Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik di Jakarta, akhir pekan lalu.
Keluhan tersebut, antara lain terkait dengan buruknya pelayanan perawat, sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap, serta lamanya pelayanan oleh tenaga kesehatan (apoteker dan petugas laboratorium). Selain itu, pasien juga mengeluhkan buruknya kualitas toilet, tempat tidur, makanan pasien dan rumitnya pengurusan administrasi, serta mahalnya harga obat.
Survei ini mengambil sampel 738 pasien miskin (pasien rawat inap dan jalan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas), Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah, yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Dengan jumlah sampel ini, diprediksi margin of error (MOE) sebesar 3-4 persen. Metode penarikan sampel menggunakan two stage random sampling with pps.
Rumit
Ade mengungkapkan, pasien miskin menyatakan bahwa pengurusan administrasi rumah sakit masih rumit dan berbelit-belit (28,4 persen) dan dengan antrean yang panjang (46,9 persen). Pasien rawat inap misalnya mengeluhkan rendahnya kunjungan dan disiplin dokter terhadap mereka. Sementara itu, pasien perempuan rawat inap mengeluhkan sikap perawat yang kurang ramah dan simpatik terhadap mereka (65,4 persen).
Hasil survei CRC juga menunjukkan, masih ada pasien miskin pemegang kartu jaminan kesehatan, seperti Jamkesmas, Gakin dan SKTM, harus membeli obat (22,1 persen). Hal ini dilakukan karena sebagian obat tidak masuk daftar yang dijamin oleh jaminan kesehatan dan habisnya stok obat rumah sakit.
Meski telah mendapatkan layanan rumah sakit, namun pasien miskin ternyata juga menghadapi kendala mendapatkan kartu jaminan kesehatan. Hal ini terjadi karena rumitnya persyaratan administrasi dan adanya berbagai pungutan untuk mendapatkan keringanan atau berobat gratis.
Dari 738 pasien miskin, 7,9 persen di antaranya mengaku dipungut biaya untuk mendapatkan kartu jaminan kesehatan. Besarnya biaya tersebut cukup variatif, bergantung jenis kartu. Pasien Jamkesmas mengeluarkan biaya rata-rata sebesar Rp 345.000, pasien Gakin Rp 101.000 dan pasien SKTM Rp 89.000.
Untuk itu, Ade memberikan saran dibukakan mekanisme keluhan atau pengaduan (complain mechanism), serta menindaklanjuti keluhan tersebut secara transparan dan bertanggung jawab, sesuai Pasal 36 dan 37 UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Menteri Kesehatan (Menkes) juga diminta untuk segera membentuk Badan Pengawas Rumah Sakit, sebagaimana diatur dalam UU Rumah Sakit. Badan ini diharapkan mampu mengawasi pelayanan rumah sakit dan pemenuhan hak-hak pasien, serta mengambil tindakan administratif terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk terhadap pasien miskin.
Berdasarkan UU Rumah Sakit, Menkes dapat mengambil tindakan berupa peringatan tertulis, pencabutan izin sementara atau izin tetap.
Hal ini terbukti dengan banyaknya keluhan pasien miskin, terutama dari kelompok perempuan, terhadap pelayanan rumah sakit.
Demikian kesimpulan yang diperoleh melalui survei Citizen Report Card (CRC) Indonesia Corruption Watch (ICW) pada bulan November 2009, yang disampaikan Ade Irawan, Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik di Jakarta, akhir pekan lalu.
Keluhan tersebut, antara lain terkait dengan buruknya pelayanan perawat, sedikitnya kunjungan dokter pada pasien rawat inap, serta lamanya pelayanan oleh tenaga kesehatan (apoteker dan petugas laboratorium). Selain itu, pasien juga mengeluhkan buruknya kualitas toilet, tempat tidur, makanan pasien dan rumitnya pengurusan administrasi, serta mahalnya harga obat.
Survei ini mengambil sampel 738 pasien miskin (pasien rawat inap dan jalan yang memegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas), Keluarga Miskin (Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah, yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Dengan jumlah sampel ini, diprediksi margin of error (MOE) sebesar 3-4 persen. Metode penarikan sampel menggunakan two stage random sampling with pps.
Rumit
Ade mengungkapkan, pasien miskin menyatakan bahwa pengurusan administrasi rumah sakit masih rumit dan berbelit-belit (28,4 persen) dan dengan antrean yang panjang (46,9 persen). Pasien rawat inap misalnya mengeluhkan rendahnya kunjungan dan disiplin dokter terhadap mereka. Sementara itu, pasien perempuan rawat inap mengeluhkan sikap perawat yang kurang ramah dan simpatik terhadap mereka (65,4 persen).
Hasil survei CRC juga menunjukkan, masih ada pasien miskin pemegang kartu jaminan kesehatan, seperti Jamkesmas, Gakin dan SKTM, harus membeli obat (22,1 persen). Hal ini dilakukan karena sebagian obat tidak masuk daftar yang dijamin oleh jaminan kesehatan dan habisnya stok obat rumah sakit.
Meski telah mendapatkan layanan rumah sakit, namun pasien miskin ternyata juga menghadapi kendala mendapatkan kartu jaminan kesehatan. Hal ini terjadi karena rumitnya persyaratan administrasi dan adanya berbagai pungutan untuk mendapatkan keringanan atau berobat gratis.
Dari 738 pasien miskin, 7,9 persen di antaranya mengaku dipungut biaya untuk mendapatkan kartu jaminan kesehatan. Besarnya biaya tersebut cukup variatif, bergantung jenis kartu. Pasien Jamkesmas mengeluarkan biaya rata-rata sebesar Rp 345.000, pasien Gakin Rp 101.000 dan pasien SKTM Rp 89.000.
Untuk itu, Ade memberikan saran dibukakan mekanisme keluhan atau pengaduan (complain mechanism), serta menindaklanjuti keluhan tersebut secara transparan dan bertanggung jawab, sesuai Pasal 36 dan 37 UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Menteri Kesehatan (Menkes) juga diminta untuk segera membentuk Badan Pengawas Rumah Sakit, sebagaimana diatur dalam UU Rumah Sakit. Badan ini diharapkan mampu mengawasi pelayanan rumah sakit dan pemenuhan hak-hak pasien, serta mengambil tindakan administratif terhadap rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk terhadap pasien miskin.
Berdasarkan UU Rumah Sakit, Menkes dapat mengambil tindakan berupa peringatan tertulis, pencabutan izin sementara atau izin tetap.

JAKARTA - Akhir pekan ini, warga Jakarta dan sekitarnya, tampaknya belum bisa menikmati liburan panjang dengan penuh ceria. Pasalnya Badan Meteologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sabtu (19/12/09), cuaca hari ini belum juga bersahabat.
Walaupun pagi hari di prakirakan cerah di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, namun siang hari seluruh wilayah Jakarta akan diguyur hujan dengan intensitas ringan kecuali di Jakarta Pusat.
Pada malam hari hujan ringan masih mengguyur wilayah Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Tapi untuk wilayah penunjang Ibu Kota, Tangerang, Depok, dan Bekasi cuaca tampaknya akan berawan, kecuali di wilayah Bogor.
Di Bogor, hujan ringan akan mengguyur dari pagi hingga malam hari. Sementara di siang hari Tangerang, Depok, dan Bekasi hujan dengan intensitas ringan akan turun.
BMKG juga masih memberikan peringatan dini adanya petir yang disertai angin kencang berdurasi singkat, ketika hujan berintensitas sedang dan lebat. Wilayah yang harus diwaspadai adalah Bogor dan Jakarta Timur

KOPENHAGEN - Sebanyak 25 kepala negara menggelar pertemuan khusus di sela-sela pertemuan para pihak (COP ke-15) dalam KTT PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Kamis 17 Desember pukul 23.00, waktu Kopenhagen, Denmark.
Pertemuan tersebut berakhir pada Jumat (18/12/2009) pukul 02.00 dan dilanjutkan pagi tadi. Pertemuan diinisiasi oleh PM Denmark Lars Loekke Rasmussen dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama turut serta dalam pertemuan itu.
"Sekarang ini situasi masih belum menjanjikan. Tadi malam mereka berkumpul karena banyak mengalami kebuntuan," ujar Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal di Hotel Crowne, Kopenhagen, seperti dilaporkan wartawan okezone Nurfajri Budi Nugroho.
Pertemuan tersebut menghasilkan teks yang menurut tuan rumah penyelenggara bisa menjadi butir kesepakatan. Teks tersebut kembali dibahas untuk mendapatkan revisi.
Dalam teks itu, Presiden SBY mengusulkan mengenai insentif bagi negara-negara yang berhasil menekan laju deforestasi di negaranya. "Presiden usul satu paragraf mengenai ini, dan tidak banyak mengalami tentangan. Nampaknya ini akan masuk," kata Dino.
Namun begitu, secara umum belum ada kepastian apakah akan ada konsensus yang dihasilkan dalam KTT. "Padahal nanti pukul 03.00 (waktu setempat) akan ditandatangani," imbuhnya.
Saat ini masih ada jurang yang lebar dan perdebatan yang terjadi cenderung emosional. Meski begitu pergerakan dan dinamika cenderung lebih lambat karena sudah mulai ada titik temu, terutama soal pendanaan.
Jakarta, RMOL. Senin besok (21/12), Revolusi Desember (Reides) 09 akan menduduki DPR dan mendesak SBY-Boediono mundur.
Demikian disampaikan Ketua Reides 09, Sri Bintang Pamungkas, kepada Rakyat Merdeka Online, usai menggelar aksi dan membacakan sikap Reides terhadap pemerintahan SBY-Boediono, di Tugu Proklamasi Jakarta (Jumat, 18/12)
"Pemilu kemarin bukan diisi oleh orang-orang hebat yang bisa membawa republik ini ke arah yang lebih baik dan rakyat sejahtera. Tetapi muncul calon-calon gombal, termasuk SBY. Dari hasil pemilu sudah terlihat rezim partai hanya 49 persen. 51 persennya adalah Golput. Artinya, rakyat sudah tidak percaya lagi. Rakyat ingin perubahan. Ini yang tidak dimengerti oleh SBY. Seolah-olah hanya mereka yang punya hak memimpin bangsa dan negara ini. Itulah kemudian muncul berbagai persoalan seperti kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan skandal Century," kata Sri Bintang.
Menurut Sri Bintang, SBY lebih baik mundur teratur daripada dipaksa untuk mundur sebagaimana rezim sebelumnya.
"Kalau tidak mau mundur, kita akan paksa. Sepuluh ribu orang akan duduki DPR dan tidak akan pulang sebelum SBY-Boediono mundur," kata Sri Bintang.
Demikian disampaikan Ketua Reides 09, Sri Bintang Pamungkas, kepada Rakyat Merdeka Online, usai menggelar aksi dan membacakan sikap Reides terhadap pemerintahan SBY-Boediono, di Tugu Proklamasi Jakarta (Jumat, 18/12)
"Pemilu kemarin bukan diisi oleh orang-orang hebat yang bisa membawa republik ini ke arah yang lebih baik dan rakyat sejahtera. Tetapi muncul calon-calon gombal, termasuk SBY. Dari hasil pemilu sudah terlihat rezim partai hanya 49 persen. 51 persennya adalah Golput. Artinya, rakyat sudah tidak percaya lagi. Rakyat ingin perubahan. Ini yang tidak dimengerti oleh SBY. Seolah-olah hanya mereka yang punya hak memimpin bangsa dan negara ini. Itulah kemudian muncul berbagai persoalan seperti kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan skandal Century," kata Sri Bintang.
Menurut Sri Bintang, SBY lebih baik mundur teratur daripada dipaksa untuk mundur sebagaimana rezim sebelumnya.
"Kalau tidak mau mundur, kita akan paksa. Sepuluh ribu orang akan duduki DPR dan tidak akan pulang sebelum SBY-Boediono mundur," kata Sri Bintang.
pada suatu hari ada 2 orang anak yang bernama Andi dan roby....
mereka sekelas pada smp..mereka bersahabat baik.....
setelah mereka besar mereka berdua jualan baso....
mereka selalu jualan baso di sebuah lapangan bola....
merek selalu bersaing saat berjualan...
sandy menjual baso dengan daging tikus...dan roby jualan dengan daging sapi dan campuran gigi....
rasa baso mereka berdua sama" enak dan lezat...
tetapi mereka selalu menipu pelanggan mereka...
mereka selalu mencampur" baso mereka dengan barang haram yang tidak boleh di makan...
mereka berdua selalu berkerja sama dalam hal yang licik..
selama 5 tahun mereka menipu para pelanggan mereka...
pada yang kelima tahunnya..ada inspeksi mendadak menguji baso mereka berdua apakah halal atau tidak...
ternyata terbukti tidak halal
dan mereka masuk penjara karena telah menjual baso yang tidak halal dan menipu pelanggan mereka...
mereka sekelas pada smp..mereka bersahabat baik.....
setelah mereka besar mereka berdua jualan baso....
mereka selalu jualan baso di sebuah lapangan bola....
merek selalu bersaing saat berjualan...
sandy menjual baso dengan daging tikus...dan roby jualan dengan daging sapi dan campuran gigi....
rasa baso mereka berdua sama" enak dan lezat...
tetapi mereka selalu menipu pelanggan mereka...
mereka selalu mencampur" baso mereka dengan barang haram yang tidak boleh di makan...
mereka berdua selalu berkerja sama dalam hal yang licik..
selama 5 tahun mereka menipu para pelanggan mereka...
pada yang kelima tahunnya..ada inspeksi mendadak menguji baso mereka berdua apakah halal atau tidak...
ternyata terbukti tidak halal
dan mereka masuk penjara karena telah menjual baso yang tidak halal dan menipu pelanggan mereka...
'Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencermempublikasikan Sosiology pada tahun 1876. Di Amerika Lester F.Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
Pengertian
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Potret Auguste Comte.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.
Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
Tiga tahapan itu adalah :
1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.oe
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
Pengertian
Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Potret Auguste Comte.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.
Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.
Tiga tahapan itu adalah :
1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.oe
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.